Kamis, 14 Februari 2013


RESEARCH PAPER FINAL EXAMINATION
FKIP – The Fifth semester of ENGLISH DEPARTMENT
Lecturer: DR. Gatot Sutapa, MPd
  1. How do you find a good topic for your research paper? (State your topic of your research paper. Remember,  your topic must be interesting and workable; and written in correct mechanics !)
  2. What should be mostly paid attention in writing a research paper and how do you develop your topic no:1 as the scientific one?
  3. Why is the use of experts’ opinion important in developing your research paper? (State how do you use them effectively! Give the examples!)
  4. What is the use of an outline to develop your research paper writing? (write your outline for the topic stated in no:1)
  5. How do you strengthen your points to support the importance of your topic in writing the research paper background coherently, cohesively, and united-ly? (Based on topic no: 1, write the model of giving clues in covering coherence, cohesiveness and unity of your background!)
  6. How do you minimize subjectivity in developing your research paper? ( state some important arguments and give the examples related to the development of your topic no:1)
  7. Write your complete Research Paper in at least 6 Pages.
Ps: No 1- No 4 must be done in class; the rest will be a take home test and must be submitted on ...
“Non Scholae sed Vitae Discimus/ We study to survive”
Good Luck!

Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Tugas Terpadu (PBTT) pada SMK Rumpun Teknik. Abstrak Disertasi,


ABSTRAK
Y. Gatot Sutapa Yuliana: Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Tugas Terpadu (PBTT) pada SMK Rumpun Teknik. Disertasi, Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2012
Penelitian ini bertujuan untuk: (1)    mendapatkan deskripsi langkah-langkah pembelajaran bahasa Inggris SMK rumpun teknik  dan pengembangan model PBTT  bahasa Inggris di SMK rumpun teknik untuk meningkatkan capaian hasil belajar bahasa Inggris  dan (2) mengetahui efektifitas model PBTT pada pembelajaran BI di SMK  rumpun teknik.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (R & D), yaitu penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Tahapan pengembangannya terdiri dari 4 fase: (1) insvestigasi awal; (2) perancangan; (3)  validasi, uji coba, dan revisi; dan (4) produk jadi. Produk awal divalidasi oleh  tiga validator penelaah/praktisi ahli dan tiga ahli (expert) substansi yakni ahli materi, ahli TEP, dan ahli Desain & evaluasi. Penilaian dilakukan sebanyak 2 kali: (1)  uji coba terbatas, dan  (2) ujicoba diperluas. Uji coba terbatas dan ujicoba diperluas melibatkan guru dan satu orang pengamat. Untuk mengukur tingkat kepahaman antar penilai terhadap hasil penilaian para ahli dianalisis dengan Coeffisient Cohen’s Kappa dan percentage of agreements. Sedangkan untuk mengukur tingkat kompetensi keterampilan yang menjadi fokus pengembangan yakni keterampilan lisan dan tulisan, digunakan desain quasi experiment. Subjek penelitian adalah siswa semester I kelas XI dan guru BI, berasal dari 4 SMK dan 1 SMTI dengan  purposive sampling  sebagai teknik pemilihannya.

Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. (1) Model PBTT dapat secara signifikan berkontribusi positif pada pengembangan kompetensi Bahasa Inggris siswa SMK rumpun teknik yang terfokus pada ketrampilan Lisan dan Tulisan. Melalui dua tahap: pra-pengembangan dan tahap pengembangan model PBTT ini teruji secara teoritis dan empiris. (2) Perangkat model yang dihasilkan yakni buku model PBTT dan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, materi/bahan ajar, perangkat evaluasi) secara kontekstual-efektif mampu menunjukkan hasil yang komprehensif-optimal. (3) Model PBTT memenuhi kriteria valid/sesuai, praktis, dan efektif. (4) Respon siswa dan guru sangat positif terhadap penerapan model PBTT  dan secara obyektif mengungkapkan bahwa model ini efektif dan berfungsi baik untuk pengembangan ketrampilan bahasa Inggris lisan dan tulisan. Hasil penilaian proses belajar dengan quasi experiment menunjukkan juga Group Model secara signifikan lebih berhasil daripada Group Konvensional dalam penguasaan kompetensi Bahasa Inggris lisan dan tulisan. Data kualitatif juga menguatkan bahwa dengan PBTT siswa bisa mengembangkan potensi diri secara terpadu dan total. Keterpaduan pada PBTT memberikan peluang motivatif bagi siswa untuk tidak hanya menguasai pengetahuan tetapi juga soft skill dan kematangan tindak berkomunikasi, berelasi dan berkreasi sesuai dengan orientasi kompetensinya yang acting out dan memenuhi kondisi relevan (real world) dengan miniatur dunia kerja yang akan dimasukinya. Dengan derajat 100% pengalaman positif dalam belajar Bahasa Inggris melalui Model PBTT, siswa/guru menilai bahwa kompetensi adaptif Bahasa Inggris bisa disiasati dengan pembelajaran yang integral.

Kata kunci: Pengembangan, Model, Tugas, Bahasa Inggris, Pembelajaran, Terpadu, PBTT

ABSTRACT on ELTEAM Conference


ABSTRACT

A Study on the Development of Integrated Task-Based English Language Learning Model
(IT-BELL) for Technical Vocational School
By
Dr. Y. Gatot Sutapa Y.
(A Lecturer of FKIP Tanjungpura University of Pontianak-Indonesia)

The study was conducted to: (1) provide an alternative model of learning English to improve the adaptive English competence for technical vocational school students, namely IT-BELL and (2) to produce its contextual required instruments.
The method implemented in this study is research and development (R & D), to pursue a particular product and to test its effectiveness.  The stages consist of four: (1) pre-research, (2) design, (3) validation, test, revision, and (4) the final product.  The subjects were the first semester students and teachers of class XI, from 4 technical vocational schools and one of technical industry school in Pontianak-Indonesia.
The findings of the research-development are. (1) The IT-BELL model is significantly contribute to the improvement of English competency of technical vocational school students--focused on spoken and writing skills, (2) The instruments of IT-BELL model produced for its learning process (handbook/manual, lesson plan, materials, evaluation tools) are effectively able to demonstrate comprehensive and optimum result, (3) The IT-BELL model meets the valid, practical, and effective criteria, (4) The students’ and teachers’ responses are very positive; they objectively state that IT-BELL is effective and works well as an alternative model for developing the two skills. Data judging the results of the learning process by quasy experiment show that Group Model is significantly faster growing than the Conventional One. Meanwhile, the qualitative data confirms strongly that the students using this model can develop their own potential in all level for an integrated and comprehensive progress. The IT-BELL provides motivational opportunities for students to develop not only knowledge but also the soft skills and maturity to be much more communicative and creative in the orientation of the competence of ‘acting out’ on language in use. This meets the relevant conditions of real world-communicativeness in a miniature world of work--going into; and thus, the IT-BELL model is  positively recommended for other similar settings.

Keywords: Development, Model, Task, Adaptive, English, Learning, Integrated, IT-BELL

Draft on Research Proposal


RESEARCH PROPOSAL
1.      Title/topic (interesting, important, meaningful, contributive, state in effective/clear phrase, not too specific)
2.      Introduction: (positioning the importance of the topic)
-     Background (Pre-research/observation on existing problems/gaps (comparing hope—mission statement by government --and fact—factual settings of the problems), previous/similar research findings (assumption/ promoting/predicting solution)
-     Problem statement (better in questions—focus of the research)
-     Research Purpose (see the problems stated)
-     Hypothesis (if any)
-     Terminology (important aspect-- scientific manipulation/limitation)
3.      Frame of Theory—related/relevant theories, up to date less then 10 years—correct quotation,  (Lit.review)
Survey on Similar research findings!
4.      Research Methodology
-     Method---why this design? (relevant, accurate to…)
-     Sample/population/
subject (---qualitative or quantitatvie--)
-     Instruments to collect the data—valid:(test, questionnaires, interview guidelines, observation checklist, field note--)
-     Data Analysis (classification, tabulation, confirmation, triangulation,
Scoring, tabulation/table, calculating/formula, interpreting)
5.      Timeline (your own schedule of conducting the research)
6.      References (relevant sources—not many from internet—up to date)
7.      Appendices (model of the instruments used)

Kamis, 18 Oktober 2012


Mengemas Pendidikan Vokasi (Kejuruan) Kalbar Menembus Pasar Global Oleh: Dr. Y. Gatot Sutapa Y.Edit

Mengemas Pendidikan Vokasi (Kejuruan) Kalbar Menembus Pasar Global
Oleh: Dr. Y. Gatot Sutapa Y.
(Dimuat di Pontianak Post Tgl. 5 September 2012)
 Di Kalbar, pendidikan vokasi dewasa ini semakin menemukan titik handal untuk menyiasati pentingnya peningkatan pembangunan, pengolahan dan pengembangan sumber daya berbasis unggulan lokal di wilayah ekonomi Kalbar.  Dengan keterampilan vokasional di bidang yang relevan dan kekinian menjadikan SDM Kalbar mampu berpotensi sejahtera dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sangat beralasan ketika kita membaca perubahan-perubahan besar dan sangat fundamental  berdimensi global  juga  dirasakan  dan dialami oleh masyarakat Kalbar. Letak Kalbar yang wilayahnya berbatasan langsung dengan dunia internasional semakin memberikan makna otentik perlunya keterlibatan dan optimasi tenaga ahli pendidikan vokasi dalam jasa profesionalitasnya untuk penyiapan, pengolahan, dan pengembangan sumber daya yang ada secara profesional dan kontekstual Kalbar.
BIAS KONSEPSI tentang  pentingnya pendidikan vokasi di Kalbar berperan serta secara maksimal  untuk penyiapan tenaga pengelola industri karet,  industri kelapa sawit, industri tambang  (emas, bauksit), dan industri pelayaran-perikanan  yang  tumbuh dengan pesat menjadi inspirasi dan  bermakna untuk ditindaklanjuti. Pengembangan kurikulum pendidikan vokasi  berbasis unggulan lokal seperti ini perlu dikelola, dikemas, dan dikembangkan dengan konsep holistik-komprehensif, cepat waktu, bersifat acting out, berorientasi kinerja, bersesuaian dengan kebutuhan dunia usaha/industri,  dan mengacu  pada kebutuhan masyarakat yangreal-need. Dengan demikian, kurikulum ini dapat menjadi sebuah medium solutif yang handal dan prospektif bagi masyarakat yang memerlukannya secara kontekstual dan profesional sejalan dengan perubahan yang menyertainya.
Penulis berpendapat bahwa secara praktis, kurikulum pendidikan vokasi yang dikembangkan secara kontekstual akan mampu menyiapkan peserta didik bekerja dalam bidang tertentu dengan standar kompetensi terukur. Karena itu, pengemasan kurikulum pendidikan vokasi yang didukung dengan profesionalitas tenaga kependidikan yang mengelolanya penting untuk dipusatkan pada orientasi penyiapan peserta didik menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mampu mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai tenaga kerja terampil tingkat menengah, dan mampu mengadaptasikan kompetensinya ke dalam program keahlian yang dipilihnya. Selain itu, kurikulum pendidikan vokasi juga penting diarahkan untuk membekali peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati peserta didik disertai dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berinteraksi, agar mampu mengembangkan diri secara mandiri atau mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk membentuk SDM yang berperformansi adaptif.
Lebih dari itu, dengan kemasan kurikulum yang mengintegrasikan soft skills(perilaku, peran hati dan pengelolaan emosi) ke dalam aktivitas pembelajaran,  pendidikan vokasi yang diundangkan dalam SISDIKNAS dan dikembangkan-lokalkan secara kontekstual akan mampu  menyediakan tenaga kerja bermutu di dunia usaha/industri dan bertanggung jawab dalam peningkatan keahlian dan up-date keterampilan peserta didik sehingga menjadi tenaga kerja yang handal dan kompeten. Kehandalan dan tingkat kompetensi ini terukur dengan kesiapan lulusannya memasuki pasar tenaga kerja lingkup regional dan global karena pendidikan vokasi sangat menekankan pada pendidikan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar (demand driven), kebersambungan (link) antara pengguna lulusan pendidikan dengan penyelenggara pendidikan, dan kesesuaian (match) antara employee dengan employer yang menjadi dasar penyelenggaraan dan ukuran keberhasilan pendidikan vokasi itu sendiri.
Pada entitas implementasinya, perubahan-perubahan besar  yang terjadi dan trendy dewasa ini tidak hanya semakin mengintimidasi, membentuk, mengagenda,  dan mengemas perilaku kehidupan masyarakat di sekitar kita  ke arah yang lebih bebas terbuka tetapi juga men-setting perilaku pendidikan vokasi ke arah  yang  lebih taktis, praktis, dan ekonomis. Terlebih lagi ketika  peradaban sosialitas strategis yang mengerucut pada operasional  forum-forum free-tight competitionseperti WTO (World Trade Organization), AFTA (Asean Free Trade Area), China-AFTA, AFLA (Asean Free Labour Area), APEC (Asia Pacific Economy Countries)  dan yang sejenis lainnya,  menunjukkan  bahwa  sebuah masyarakat ekonomi  semakin dituntut ekstra produktif, cepat waktu, efisien, dan kompeten  membekali diri agar tetap mampu menciptakan, mengelola,  mengolah, dan mendayagunakan  lingkungan hidupnya  bagi kesejahteraan warga masyarakatnya, pendidikan vokasi semakin terasa diperlukan kehadirannya untuk berkontribusi secara aktif. Untuk itu, kesiapan dan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) bermutu yang salah satunya secara empiris nyata bisa dikembangkan melalui pendidikan vokasi menjadi bagian yang conditio sine qua non untuk mencapai kondisi siap yang lebihadaptable dan relevant.
Pendidikan Vokasi yang Berbasis Unggulan Lokal Ke-Kalbar-an
Dalam konteks Kalbar, kurikulum pendidikan vokasi bisa dikemas ke dalam beberapa titik sasar, yang erat terkait dengan produk unggulan kalbar yakni industri jasa sebagai konsekwensi wilayah lintas internasional, industri perkebunan (utamanya karet dan kelapa sawit) sebagai industri yang semakin berkembang, industri pelayaran-perikanan yang terus bertumbuh, industri kayu lapis yang sekalipun sudah mulai berkurang tetap saja memerlukan tenaga terampil untuk kelanjutannya,  industri kerajinan yang terkait dengan kultur lokalitas, industri pariwisata yang prospektif (festival Meriam, festival Naik Dango, festival Barongsai, festival Khatulistiwa, dlsb), industri tambang (utamanya emas dan bauksit), industri informasi dan penyiaran. Industri-industri ini menghendaki  tersedianya tenaga-tenaga terampil kelas menengah yang secara cepat bisa dipekerjakan dengan  kemampuan dan kompetensi yang memadai.
Sejalan dengan peta kekayaan sumber alam dan kekinian habitus sosial Kalbar  tersebut, usaha-usaha pengelolaan dan pengolahan secara intensif perlu dikembangkan dengan basis sumber daya yang bermutu: kompeten, terampil dan berpengetahuan.  Terkait dengan upaya penyiapan SDM Kalbar bermutu ini, pendidikan vokasi yang merupakan salah satu alternatif pendidikan formal yang memiliki fungsi guna yang sangat strategis karena sifatnya yang acting out, singkat waktu, dan applikatif bisa dioptimalkan perannya. Dalam praksis yang lebih  implementatif, pendidikan vokasi Kalbar ini nalar logisnya mampu membangun dan mengembangkan “kultur kerja” yang tidak lain adalah miniatur dunia usaha yang dekat dengan lingkungan aslinya.  Aktivitas pembelajaran 40% teori dan 60 % praktek memungkinkan peserta didik untuk mengalami “on going learning” yang sesuai dengan peta perilaku dan kultur dunia usaha yang cenderung produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan konteks lingkungan yang dihadapi dan dialami. Dengan demikian, sebagai sekolah formal yang penyelenggaraannya difokuskan pada penyiapan tenaga kerja tingkat menengah, pendidikan vokasi memiliki dimensi pelayanan kependidikan yang berkultur “learning by doing”.Perilaku ini diperkuat dengan konsepsi operasional yang mengedepankan pembentukan kebiasaan-kebiasaan kerja yang merupakan miniatur pembudayaan (encultural), yakni suatu proses untuk mencelupkan peserta didik mampu hidup dalam suatu budaya kerja tertentu yang sesuai dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.  Ilustrasi gambar di bawah ini mencoba untuk merangkum alur produktif pendidikan vokasi yang kontekstual (Gatot Sutapa, 2012):




















Alhasil, sehubungan dengan terjadinya lompatan paradigma entitas dunia global terhadap fungsi kelembagaan dan sumber daya pendidikan vokasi yang ditandai oleh adanya pergeseran prospektif pandangan dan perilaku DUDI, kemampuan beradaptasi dengan dunia kerja yang akan dimasuki dengan fasilitas kompetensi bahasa Inggris yang memadai sebagai sarana berkomunikasi menjadikan lulusan pendidikan vokasi Kalbar juga memiliki nilai jual komprehensif dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk memasuki dunia usaha dan industri. Bahasa Inggris sebagai salah satu kompetensi adaptif cenderung menjadi sebuah keharusan added value  bagi peserta didik di zaman informasi tanpa batas. Kompetensi bahasa ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan terkait dengan fungsinya sebagai bahasa komunikasi bisnis lintas sektor yang mengglobal. Selamat berkontribusi dalam Pendidikan Vokasi!
Penulis: Doktor Vocational Education, Dosen FKIP UNTAN

Mengemas Pendidikan Vokasi (Kejuruan) Kalbar Menembus Pasar Global Oleh: Dr. Y. Gatot Sutapa Y.Edit

Mengemas Pendidikan Vokasi (Kejuruan) Kalbar Menembus Pasar Global
Oleh: Dr. Y. Gatot Sutapa Y.
(Dimuat di Pontianak Post Tgl. 5 September 2012)
 Di Kalbar, pendidikan vokasi dewasa ini semakin menemukan titik handal untuk menyiasati pentingnya peningkatan pembangunan, pengolahan dan pengembangan sumber daya berbasis unggulan lokal di wilayah ekonomi Kalbar.  Dengan keterampilan vokasional di bidang yang relevan dan kekinian menjadikan SDM Kalbar mampu berpotensi sejahtera dalam arti yang seluas-luasnya. Hal ini sangat beralasan ketika kita membaca perubahan-perubahan besar dan sangat fundamental  berdimensi global  juga  dirasakan  dan dialami oleh masyarakat Kalbar. Letak Kalbar yang wilayahnya berbatasan langsung dengan dunia internasional semakin memberikan makna otentik perlunya keterlibatan dan optimasi tenaga ahli pendidikan vokasi dalam jasa profesionalitasnya untuk penyiapan, pengolahan, dan pengembangan sumber daya yang ada secara profesional dan kontekstual Kalbar.
BIAS KONSEPSI tentang  pentingnya pendidikan vokasi di Kalbar berperan serta secara maksimal  untuk penyiapan tenaga pengelola industri karet,  industri kelapa sawit, industri tambang  (emas, bauksit), dan industri pelayaran-perikanan  yang  tumbuh dengan pesat menjadi inspirasi dan  bermakna untuk ditindaklanjuti. Pengembangan kurikulum pendidikan vokasi  berbasis unggulan lokal seperti ini perlu dikelola, dikemas, dan dikembangkan dengan konsep holistik-komprehensif, cepat waktu, bersifat acting out, berorientasi kinerja, bersesuaian dengan kebutuhan dunia usaha/industri,  dan mengacu  pada kebutuhan masyarakat yangreal-need. Dengan demikian, kurikulum ini dapat menjadi sebuah medium solutif yang handal dan prospektif bagi masyarakat yang memerlukannya secara kontekstual dan profesional sejalan dengan perubahan yang menyertainya.
Penulis berpendapat bahwa secara praktis, kurikulum pendidikan vokasi yang dikembangkan secara kontekstual akan mampu menyiapkan peserta didik bekerja dalam bidang tertentu dengan standar kompetensi terukur. Karena itu, pengemasan kurikulum pendidikan vokasi yang didukung dengan profesionalitas tenaga kependidikan yang mengelolanya penting untuk dipusatkan pada orientasi penyiapan peserta didik menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mampu mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai tenaga kerja terampil tingkat menengah, dan mampu mengadaptasikan kompetensinya ke dalam program keahlian yang dipilihnya. Selain itu, kurikulum pendidikan vokasi juga penting diarahkan untuk membekali peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati peserta didik disertai dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berinteraksi, agar mampu mengembangkan diri secara mandiri atau mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk membentuk SDM yang berperformansi adaptif.
Lebih dari itu, dengan kemasan kurikulum yang mengintegrasikan soft skills(perilaku, peran hati dan pengelolaan emosi) ke dalam aktivitas pembelajaran,  pendidikan vokasi yang diundangkan dalam SISDIKNAS dan dikembangkan-lokalkan secara kontekstual akan mampu  menyediakan tenaga kerja bermutu di dunia usaha/industri dan bertanggung jawab dalam peningkatan keahlian dan up-date keterampilan peserta didik sehingga menjadi tenaga kerja yang handal dan kompeten. Kehandalan dan tingkat kompetensi ini terukur dengan kesiapan lulusannya memasuki pasar tenaga kerja lingkup regional dan global karena pendidikan vokasi sangat menekankan pada pendidikan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar (demand driven), kebersambungan (link) antara pengguna lulusan pendidikan dengan penyelenggara pendidikan, dan kesesuaian (match) antara employee dengan employer yang menjadi dasar penyelenggaraan dan ukuran keberhasilan pendidikan vokasi itu sendiri.
Pada entitas implementasinya, perubahan-perubahan besar  yang terjadi dan trendy dewasa ini tidak hanya semakin mengintimidasi, membentuk, mengagenda,  dan mengemas perilaku kehidupan masyarakat di sekitar kita  ke arah yang lebih bebas terbuka tetapi juga men-setting perilaku pendidikan vokasi ke arah  yang  lebih taktis, praktis, dan ekonomis. Terlebih lagi ketika  peradaban sosialitas strategis yang mengerucut pada operasional  forum-forum free-tight competitionseperti WTO (World Trade Organization), AFTA (Asean Free Trade Area), China-AFTA, AFLA (Asean Free Labour Area), APEC (Asia Pacific Economy Countries)  dan yang sejenis lainnya,  menunjukkan  bahwa  sebuah masyarakat ekonomi  semakin dituntut ekstra produktif, cepat waktu, efisien, dan kompeten  membekali diri agar tetap mampu menciptakan, mengelola,  mengolah, dan mendayagunakan  lingkungan hidupnya  bagi kesejahteraan warga masyarakatnya, pendidikan vokasi semakin terasa diperlukan kehadirannya untuk berkontribusi secara aktif. Untuk itu, kesiapan dan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) bermutu yang salah satunya secara empiris nyata bisa dikembangkan melalui pendidikan vokasi menjadi bagian yang conditio sine qua non untuk mencapai kondisi siap yang lebihadaptable dan relevant.
Pendidikan Vokasi yang Berbasis Unggulan Lokal Ke-Kalbar-an
Dalam konteks Kalbar, kurikulum pendidikan vokasi bisa dikemas ke dalam beberapa titik sasar, yang erat terkait dengan produk unggulan kalbar yakni industri jasa sebagai konsekwensi wilayah lintas internasional, industri perkebunan (utamanya karet dan kelapa sawit) sebagai industri yang semakin berkembang, industri pelayaran-perikanan yang terus bertumbuh, industri kayu lapis yang sekalipun sudah mulai berkurang tetap saja memerlukan tenaga terampil untuk kelanjutannya,  industri kerajinan yang terkait dengan kultur lokalitas, industri pariwisata yang prospektif (festival Meriam, festival Naik Dango, festival Barongsai, festival Khatulistiwa, dlsb), industri tambang (utamanya emas dan bauksit), industri informasi dan penyiaran. Industri-industri ini menghendaki  tersedianya tenaga-tenaga terampil kelas menengah yang secara cepat bisa dipekerjakan dengan  kemampuan dan kompetensi yang memadai.
Sejalan dengan peta kekayaan sumber alam dan kekinian habitus sosial Kalbar  tersebut, usaha-usaha pengelolaan dan pengolahan secara intensif perlu dikembangkan dengan basis sumber daya yang bermutu: kompeten, terampil dan berpengetahuan.  Terkait dengan upaya penyiapan SDM Kalbar bermutu ini, pendidikan vokasi yang merupakan salah satu alternatif pendidikan formal yang memiliki fungsi guna yang sangat strategis karena sifatnya yang acting out, singkat waktu, dan applikatif bisa dioptimalkan perannya. Dalam praksis yang lebih  implementatif, pendidikan vokasi Kalbar ini nalar logisnya mampu membangun dan mengembangkan “kultur kerja” yang tidak lain adalah miniatur dunia usaha yang dekat dengan lingkungan aslinya.  Aktivitas pembelajaran 40% teori dan 60 % praktek memungkinkan peserta didik untuk mengalami “on going learning” yang sesuai dengan peta perilaku dan kultur dunia usaha yang cenderung produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan konteks lingkungan yang dihadapi dan dialami. Dengan demikian, sebagai sekolah formal yang penyelenggaraannya difokuskan pada penyiapan tenaga kerja tingkat menengah, pendidikan vokasi memiliki dimensi pelayanan kependidikan yang berkultur “learning by doing”.Perilaku ini diperkuat dengan konsepsi operasional yang mengedepankan pembentukan kebiasaan-kebiasaan kerja yang merupakan miniatur pembudayaan (encultural), yakni suatu proses untuk mencelupkan peserta didik mampu hidup dalam suatu budaya kerja tertentu yang sesuai dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.  Ilustrasi gambar di bawah ini mencoba untuk merangkum alur produktif pendidikan vokasi yang kontekstual (Gatot Sutapa, 2012):




















Alhasil, sehubungan dengan terjadinya lompatan paradigma entitas dunia global terhadap fungsi kelembagaan dan sumber daya pendidikan vokasi yang ditandai oleh adanya pergeseran prospektif pandangan dan perilaku DUDI, kemampuan beradaptasi dengan dunia kerja yang akan dimasuki dengan fasilitas kompetensi bahasa Inggris yang memadai sebagai sarana berkomunikasi menjadikan lulusan pendidikan vokasi Kalbar juga memiliki nilai jual komprehensif dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk memasuki dunia usaha dan industri. Bahasa Inggris sebagai salah satu kompetensi adaptif cenderung menjadi sebuah keharusan added value  bagi peserta didik di zaman informasi tanpa batas. Kompetensi bahasa ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan terkait dengan fungsinya sebagai bahasa komunikasi bisnis lintas sektor yang mengglobal. Selamat berkontribusi dalam Pendidikan Vokasi!
Penulis: Doktor Vocational Education, Dosen FKIP UNTAN